9 Januari 2021

9 Tips Hemat Listrik Token Rp50 Ribu untuk 8 Bulan!


Image credit: RoboAdvisor dari Pixabay

Pulsa listrik token Rp50 ribu untuk 8 bulan? Serius tidak salah tulis, nih? Iya, saya sama seperti kamu, kok. Sampai detik ini pun saya masih suka tidak percaya kalau pulsa listrik Rp50 ribu bisa bertahan selama 8 bulan lamanya! Saya yang beberapa bulan terakhir berusaha untuk hemat listrik token di indekos pun akhirnya memanen hasilnya! 

Perjalanan menghemat listrik token ini berawal dari komitmen saya untuk memulai gaya hidup minimalis. Pada awal bulan Februari 2019, saya kembali ke Yogyakarta dan tinggal di indekos. Biaya sewa indekos per bulan sebesar Rp700 ribu dengan fasilitas berupa isian lengkap, free Wi-Fi, parkir, dan dapur. Namun, saya harus menyiapkan bujet lagi untuk membeli pulsa listrik.

Satu bulan pertama, saya menghabiskan pulsa listrik token sebesar Rp50 ribu. Keringat dingin pun langsung jatuh bercucuran saat melihat sisa pulsa listrik di meteran. Jika saya tidak interopeksi diri, biaya indekos saya bisa surplus mencapai lebih dari Rp750 ribu per bulan. 

Tidak kehabisan akal, saya pun mulai mengutak-atik gaya hidup agar tidak boros lagi. Jadi, apa saja penyebab listrik boros? Sudah konfirmasi ke sana-sini, Rp50 ribu per bulan ternyata tidak boros, kok. Namun, saya sudah telanjur tertantang untuk menghemat listrik indekos.  

Saya pun penasaran, kalau berhemat, pulsa listrik Rp50 ribu bisa bertahan berapa lama, ya? Untuk menjawab rasa penasaran yang mendera, saya pun menyusun strategi untuk menghemat listrik token. 

Apa saja tipsnya? Yuk, langsung cus saja. Ini dia tips hemat listrik token Rp50 ribu untuk 8 bulan! 


(1) Decluttering Barang Elektronik yang Nggak Perlu  

Rasanya memang terkesan klise, tetapi proses eliminasi ini sangat besar dampaknya. Laiknya Marie Kondo, kamu bisa mengumpulkan semua barang elektronik di satu tempat. Silakan pilih mana yang paling vital dan sisihkan atau simpan yang nggak begitu penting. FYI, saya hanya memiliki empat barang elektronik di indekos, yaitu laptop, smartphone, kipas angin, dan dispenser. 

Kendati masih butuh barang elektronik lain, saya mengurungkan niat karena tidak mau impulsif. Jika dipikir-pikir, keempat barang elektronik ini sudah lebih dari cukup. Sejak tinggal di Yogyakarta, saya tidak pernah memiliki TV. Alasannya? Saya memang nggak hobi menonton TV. 

Coba sekarang hitung berapa banyak barang elektronik di indekos atau rumahmu? Setelah mengeliminasi barang elektronik, kita juga harus belajar menggunakannya secara efisien. Tidak sekadar mengurangi jumlah barang, tetapi juga harus berusaha agar tidak boros dalam pemakaian.  


(2) Belajar Telaten untuk Mencabut Kabel 

Kunci kesuksesan dalam menghemat listrik adalah kedisiplinan. Caranya adalah dengan telaten mencabut kabel yang sudah tidak digunakan, khususnya untuk kamu yang suka bandel tidak mencabut colokan charger smartphone atau laptop, ya. Jika kipas angin sudah tidak digunakan, colokan jangan dipanjer terus. 

Untuk para mahasiswa atau pekerja, kalau baterai laptop atau smartphone sudah penuh, kabelnya langsung dicabut, dirapikan, dan disimpan. Pencabutan kabel ini juga berlaku untuk barang elektronik lain yang memungkinkan. 


(3) Eits, Lampunya Jangan Lupa Dimatiin!

Untuk menghemat listrik token, saya mematikan lampu kamar indekos secara ekstrem. Jadi, kamar indekos memiliki dua lampu yaitu lampu kamar dan toilet. Walaupun watt lampu kecil, saya benar-benar hidup dalam gelap kalau tidak melakukan kegiatan yang produktif! Pertama, saya selalu tidur dalam kondisi lampu mati. Selain hemat listrik, kamu juga akan jauh lebih sehat. Kalau cuma bengong di kamar, saya pun akan mematikan semua lampu. 

Kalau sudah selesai memakai kamar mandi, saya segera mematikan lampunya. Banyak orang yang masih malas untuk mematikan lampu kamar mandi setelah digunakan karena watt lampu kamar mandi rendah. Ada kalanya, saya mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu kamar mandi yang watt-nya lebih kecil. Kalau takut gelap, pintu kamar mandi tinggal dibuka. 


(4) Mengaktifkan Mode Hemat Baterai dan Atur Cahaya Layar Smartphone

Untuk menghemat baterai smartphone, kamu bisa mengaktifkan mode hemat baterai. Saya pun mengurangi volume cahaya layar smarphone agar tidak terlalu menyedot daya baterai. Jika baterai smartphone awet, kamu pun tidak perlu sering-sering mengisi baterai. 

Artinya, lifetime pulsa listrik kamu makin panjang! Smartphone yang biasanya harus diisi setiap satu hari sekali, sekarang bisa awet sampai dua hari, he-he. 


(5) Jadi, Kamu Mau Tidur atau Menonton TV? 

Ada beberapa orang yang tidak bisa tidur kalau tidak mendengar suara TV? Nah, kebiasaan ini sedikit demi sedikit harus dihilangkan. Menyalakan TV saat kamu tidur jatuhnya mubazir, lho. 

Selain tidak ada yang menonton dan memakan listrik, kualitas tidur Anda akan terganggu. Jika memang ada TV di indekos, usahakan untuk mematikannya sebelum tidur. 


(6) Dispenser hanya Dipakai Satu Kali Seminggu

Saya bikin perjanjian dengan diri sendiri kalau dispenser air panas hanya boleh dipakai satu kali dalam seminggu. Jadi, saya tidak sering minum air hangat kalau di indekos. Satu lagi, dispenser memakan daya listrik cukup tinggi. Oleh karena itu, kabelnya harus segera dicabut setelah selesai digunakan. 


(7) Memotong Rambut Menjadi Pendek

Memotong rambut menjadi pendek memiliki dua efek domino pada listrik. Pertama, Anda bisa menghemat air dan listrik karena tidak membutuhkan banyak air untuk keramas. Kedua, Anda tidak perlu hair dryer untuk mengeringkan rambut. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampui. Bonusnya, kamu bisa sekalian hemat shampo atau biaya perawatan ke salon.


(8) Sebelum Keluar Indekos, Matikan Meteran Listrik 

Sebelum berangkat ke kantor, saya memiliki ritual mematikan meteran listrik. Mumpung token listrik dipasang per kamar, kita bisa mematikannya tanpa takut merugikan orang lain. Kita bisa meninggalkan indekos dengan hati tentang tanpa khawatir ada korsleting atau pulsa listrik berkurang karena ada kabel yang belum dicabut. 


(9) Kapan Harus Menyalakan Kipas Angin? 

Tidak peduli sepanas apa kondisi sekitar, saya bertekad tidak akan menyalakan kipas angin saat tidur. Selain berbahaya untuk kesehatan, kita juga patut waspada dengan biaya listrik yang membengkak. Alih-alih menyalakan kipas angin, saya menyiapkan kipas angin manual di samping bantal. Jadi, kalau kepanasan tinggal kipas-kipas sendiri. 

Lalu, kapan kita bisa menyalakan kipas angin? Saya sebenarnya tipe yang nggak kuat panas. Kalau sampai batuk-batuk, artinya kipas angin harus dinyalakan. Itu pun kipas saya arahkan ke tembok sehingga hembusan angin tidak langsung mengenai tubuh. 

Setelah menerapkan tips hemat listrik token di atas, pulsa listrik token saya pun bertahan dari Maret 2019 sampai Oktober 2019! Setelah sukses menaklukkan challenge ini, saya dihadapkan pada satu dilema baru. Jadi, saya memang beneran hemat atau miskin, sih? 







 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar