9 Desember 2020

Review Buku Am I There Yet? Mari Andrew (Spoiler Alert)


Saya memiliki beberapa motivasi untuk menulis review buku Am I There Yet? Mari Andrew. Saat membaca buku ini, saya pun tersadar bahwa Mari Andrew adalah sosok pengamat, seniman, sekaligus motivator ulung yang sanggup menyulap rutinitas harian menjadi kisah yang begitu atraktif untuk disimak! Ketika melihat ilustrasinya, saya pun mengangguk-angguk setuju, terkadang tertawa riang dengan selera humornya yang savage

Sebuah Awal: Patah Hati, Berkabung, dan Terjebak di Apartemen!

Melalui buku Am I There Yet?: Perjalanan Berbatu dan Penuh Liku Menuju Dunia Orang Dewasa, Anda akan diajak berkelana bersama Andrew dalam berjuang melawan quarter life crisis. Seperti orang yang memasuki usia akhir 20-an pada umumnya, ia dihadapkan pada setumpuk keraguan tentang kehidupan, seperti pencarian jati diri, karier, dan tujuan hidup. Bagaimana cara ia mengatasi quarter life crisis? Jika selama ini Anda menjadi pengikut akun Instagram Mari Andrew dan menikmati ilustrasinya, buku ini akan memberikan gambaran di balik layar mengapa ia mulai menggambar ilustrasi. Dari buku ini pula, Anda akan mengetahui seberapa penting arti menggambar bagi kehidupannya. 

Meskipun tidak ada definisi saklek tentang seniman bertalenta di dunia ini, setidaknya bagi saya, ia memiliki segala hal yang seniman butuhkan. Ia memiliki sensitivitas terhadap sekitar, tipe observer, dan memiliki tekad bulat untuk mengekspresikan dirinya dengan cara yang unik. Semua ini dapat Anda nikmati dalam tiap lembar buku setebal 188 halaman ini. 

Tidak hanya perjalanan menjadi seorang seniman dadakan saja, ia juga menjadi seorang motivator handal yang akan membawa Anda bangkit dari patah hati, berkabung, dan rasa sakit yang datang bertubi-tubi. 

Kisah ini berawal saat Andrew kehilangan sosok yang begitu penting dalam hidupnya yaitu sang ayah. Andrew kecil begitu dekat dengan sang ayah, tetapi entah mengapa saat dewasa hubungan mereka renggang. Sebelum ia dapat kembali merajut kedekatan itu, ayahnya telah berpulang. 

Kesedihannya pun kian bertambah karena pada saat bersamaan ia putus dengan sosok kekasih yang telah mengubah hidupnya. Mantan kekasihnya adalah seorang desainer yang mengenalkan kehidupan avant garde pada Andrew, si pecinta vintage dan boho

Tidak hanya kisah cinta yang pupus, desainer itu juga membawa separuh kehidupan Andrew. Sudah jatuh tertimpa tangga, masalah lain pun datang. Ia harus melakukan operasi kecil dan terjebak di apartemen dalam waktu lama untuk pemulihan. 

Sejak saat itulah, ia memulai kehidupan baru nan berliku. Anda akan diajak untuk merasakan kesedihan demi kesedihan yang menghantuinya. Tanpa mau berpangku tangan, ia berusaha bangkit dengan langkah kecil, yakni mendekorasi apartemennya dengan konsep yang ia banget. Siapa sangka, langkah kecil ini menjadi sebuah turning point dalam hidupnya! 

Ia sanggup melihat sisi positif dari rutinitas harian dan mencurahkannya dalam gambar ilustrasi. Gambar ilustrasi ini pun mendapatkan respon positif di acara pop-up art sale di New York. Hobi baru untuk selamanya ini sanggup menutup lukanya sedikit demi sedikit dan lambat laun ia dapat bangkit dari keterpurukan. 

Apakah Kunci Bahagia Menurut Buku Am I There Yet? Mari Andrew? 

Pesan hidup yang saya tangkap dari buku ini yaitu untuk menjadi bahagia kita tidak perlu meminta izin orang lain. Untuk bahagia, kita tidak perlu mengikuti standar yang didikte pada diri kita. Dan untuk merasakan kebahagiaan, Anda tidak harus melewati kehidupan yang mewah dan sempurna. 

Kebahagiaan bisa didapatkan dari kesehatan dan rutinitas sehari-hari, bahkan saat tertimpa musibah dan masalah sekalipun! Ilustrator cantik ini pun berhasil menemukan kebahagiaan dari sebuah perpisahan dengan arsitek di Rio de Janeiro, kebakaran apartemen, dan komentar tentang fesyennya yang mirip ibu-ibu. Ia tetap merasa bahagia saat terbaring di rumah sakit dengan kelumpuhan sementara di negara antah-berantah. 

Secara garis besar, berikut ini kunci bahagia versi Mari Andrew. 
  • Berdamai dengan patah hati. 
  • Tahu kapan harus berhenti memaksakan diri.
  • Self-care.
  • Gaya, bukan fesyen!
  • Menemukan hobi baru.

Kesimpulan Review Buku Am I There Yet? Mari Andrew 

Andrew memperumpamakan musim gugur sebagai musim berkabung. Meskipun hanya berjalan selama maksimal tiga bulan, pada realitasnya rasa sedih karena kehilangan tidak mudah lenyap dalam hitungan hari, bulan, ataupun tahun. 

Alih-alih melawan rasa itu dan move-on, ia berusaha hidup berdampingan dengan perasaan itu. Kondisi ini tentu terasa begitu realistis. 

Kendatipun masa penerimaan akan datang, perasaan kehilangan akan hidup abadi di hati orang yang ditinggalkan. Dan satu hal yang saya suka dari Andrew, ia mengakui kelalaiannya bahwa kita tidak bisa mencari pengganti untuk orang yang telah pergi. 

Ia sempat mencari kekasih untuk menggantikan sosok sang ayah, tetapi akhirnya tersadar bahwa itu adalah cara yang salah. Ia juga menawarkan sebuah jalan antimanstream, tetapi menyenangkan, untuk melewati proses menjadi orang dewasa, yaitu dengan travelling, menggambar, dan jatuh cinta! 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar