1 November 2020

Info Transportasi dan Akomodasi ke Shirakawago saat Musim Dingin


Konon, destinasi wisata Jepang Shirakawago benar-benar cantik saat musim dingin. Bermodal jaket Uniqlo pinjaman dari si empu, Mbak Rini, saya pun wisata ke Shirakawago. Masih dengan ketidaktahuan akan makna benar-benar dingin  yang bikin gigi gemeretak, kulit kisut, dan tulang yang membeku tentunya. Di sini, kamu bisa buktikan sendiri kalau lipbalm yang kamu beli beneran bagus apa enggak karena cuaca dingin bikin bibir kamu merekah alias pecah-pecah. So, ini dia info transformasi dan akomodasi ke Shirakawago saat musim dingin.  


Transportasi ke Shirakawago dari Tokyo dan Kanazawa


Jika punya Japan Rail Pass, kamu bisa mengambil rute Tokyo-Kanazawa (Ishikawa) dengan naik Hokuriku Shinkansen dari Tokyo. Harga tiket dibanderol seharga kurang lebih Rp 1,4 juta untuk sekali jalan kalau kamu tak punya Japan Rail Pass.

Sesampainya di Stasiun JR Kanazawa, kamu bisa naik bus ke Shirakawago. Kalau kamu tak mau ada drama dalam perjalananmu, sangat disarankan untuk beli tiket secara online jauh-jauh hari. Dengan kata lain, persiapan pasti lebih ribet karena harus punya itin fix beserta jam dan bujet. Takutnya, kamu akan kehabisan tiket jika beli langsung di TKP. Mengingat Kanazawa-Shirakawago adalah golden route yang digandrungi para turis.  Untuk pemesanan tiket bus online, silakan klik tautan berikut ini.

Tak  ada hujan tak ada angin, salju turun dengan anggunnya. Saya memotivasi diri sendiri, harus kuat fisik, harus kuat mental, tak boleh manja. Nggak lucu banget kan saya cuma bobok cantik di dalam hostel karena takut dingin?

Sebenarnya, saya sudah chatting dengan teman backpacker dari Malaysia dan Indonesia yang duluan travelling ke Shirakawago. “You should buy gloves!”, salah satu isi chat Tiqla, backpacker dari Malaysia. Membaca berbagai saran dari mereka, saya langsung meluncur ke Omicho Market di Kanazawa untuk beli perbekalan menghadang salju.  

Naik bus dari Kanazawa ke Shirakawago adalah kado terindah yang Tuhan titipkan pada hari itu.  Dari balik jendela bus,  ukiran pegunungan salju tersaji secara sempurna. Dan semua pemandangan ini bisa kamu lihat sampai di Terminal Bus Shirakawago!

Mager di Ogimachi Bus Terminal


Salju tak juga berhenti. Menurut kasak kusuk yang beredar di ruangan mungil Ogimachi Bus Terminal, matahari baru akan muncul esok hari. Saya makin mengkeret dan menarik syal kuat-kuat ke arah mulut. Niatan demi niatan yang terus berguguran layaknya salju di luar ruangan itu. Hari itu saya menerima vonis terburuk, baru bisa mengekplorasi Shirakawago keesokan harinya.

Mbak Andien, teman backpacker dari Indonesia sibuk merapikan syal dan kupluk saya yang nggak karuan. Dia juga menyodorkan sebungkus cokelat untuk ganjal perut dan penghangat tubuh. Cokelat yang awalnya saya benci, pada hari itu menjadi penyelamat. Rasanya tuh, hawa dingin di sana seperti Dementor! Buktinya, habis makan cokelat, badan pun jadi sedikit lebih hangat. Sejak saat itu, saya selalu menyediakan sekotak cokelat di dalam backpack!


Ngeteh Cantik ala Nona Bule di Satou Restaurant!


Mbak Andien yang nggak tega lihat saya kedinginan plus kelaparan, ngajakin buat ngeteh sore-sore di Satou Restaurant. Kami pun memutuskan untuk makan di salah satu restoran yang berada di depan terminal, namanya adalah Sato Restaurant. Pemilik resto ini adalah kakek-nenek yang romantis abis! Mereka masak bareng di dapur dan terlihat kompak berdua.  




Pesanan saya berupa satu set onigiri. Dua kepal onigiri, dengan warna putih dan hitam yang disajikan di atas daun kering.  Ada side dish berupa pickle edible wild vegetables atau disebut sansa. Kalau saya suka menyebutnya dengan sayuran gunung.

Sedangkan Mbak Andien membeli satu kepal onogiri. Semua sajian sudah lenyap, kecuali satu kepal onigiri. Obasan yang baik hati, membungkus satu onigiri tersebut dengan daun kering tadi. Ahhhh, suka banget! 

Pesanan Mbak Andien



Ini  salah satu alasan kenapa saya susah move on dengan Jepang, nuansanya alam banget nggak,  sih? Kata si Obasan, “Lumayan untuk bekal, di area sini jarang ada restoran buka kalau malam”.

Penginapan Rekomendasi di Shirakawago, Ant Hut Hostel


Saya memilih memakai pick up service karena lokasi hostel lumayan jauh. Selalu merasa bahwa Ant Hut Hostel adalah buah dari keteledoran karena tak jauh-jauh hari memesan hostel. Tanpa mengetahui bahwa Tuhan sudah menyiapkan pengalaman terbaik yang akan saya dapatkan selama menginap di hostel ini.  

Seorang kakek membawa plang Ant Hut memasuki area terminal. Sumpah lega banget!!! Saya pun dipersilakan masuk ke dalam mobil. Kata si kakek, ia harus balik ke terminal karena harus menjemput satu tamu lagi.

Dan taukah kamu, siapakah tamu yang ia cari-cari di dalam terminal? Namnya adalah Ving Ha, mahasiswi dari Vietnam yang sedang backpackeran keliling Jepang. Yang bikin syok adalah ternyata kami sama-sama menunggu bus sejak dari Stasiun JR Kanazawa sebelum ke Shirakawa-go. Dan saat saat duduk di dalam bus, ia juga duduk di depan kursi saya selama perjalanan.

Ditambah lagi, sekarang kami satu mobil berdua, menginap di hostel yang sama, dan satu bunk bed (atas-bawah) yang sama! Hanya butuh 1 menit saja kami sudah asik ngobrol. Rasanya kami sudah kenal sejak lama, kami pun saling takjub.





Itu pun masih cukup bisa dimaklumi. Kalau fakta yang satu ini sepertinya benar-benar takdir! Ternyata, kami memiliki teman yang sama yaitu Shabrina. Shabrina adalah teman kampus saya di Indonesia dan Vinha adalah teman Shabrina di Jepang. Nggak saling kenal, tetapi entah bagaimana bisa bertemu di Shirakawa-go.  Ajaib banget! Orang-orang di hostel mengira kami sudah temenan lama, padahal baru ketemu beberapa menit yang lalu.

Tak hanya Vin Ha, saya berjumpa dengan dua orang mahasiswa Nagoya yang lagi liburan ke Shirakawago. Nama samarannya adala Grape dan Pineapple, dan seorang backpacker dari Taiwan yaitu Apel.

Lahirnya Fruit Family di Ant Hut Hostel


Mengapa kami memakai nama buah??? Ini juga ada cerita tersendiri nih. Jadi, kami semua di persatukan dalam satu kamar mix-room. Nah, saat kami ngumpul di dalam kamar, kenalan tuh satu-satu. Ternyata nama kami susah-susah untuk dilafalkan, apalagi kami berasal dari berbagai negara dengan keunikan bahasanya masing-masing. Entah bagimana jadinya, nama saya beruba jadi Ewi.  




Udah kenalan lebih dari 3 kali, di antara kami nggak ada satu pun yang ingat nama satu sama lain. Akhirnya, lahirlah Fruit Family. Kami menamai diri sendiri dengan nama buah agar lebih mudah diingat sekaligus dilafalkan. Pada tanggal 7 Maret 2017 lahirlah nama Strawberry, Blueberry, Apple, Pineapple, dan Grape. Sampai sekarang, kalau chatting kami masih suka pakai nama ini, lho.  


Dinner on ice!


Sok-sokan merasa kuat, saya dan Blueberry memutuskan mencari makan di sebuah restoran. Obasan  memberi kami kupon, lumayan buat dapat diskon. Dengan semangat berlapis baja, kami langsung keluar memecah malam. Brrrr, ini negara kenapa bisa dingin kayak gini? Lah kok, sepi ????





Berbekal kamera, payung, kupon di kantong yang berkali-kali jatuh, dan selembar peta yang sering terselip di kantong jaket, kami mencari restoran si pemberi diskon. Baru berapa langkah dari hostel, kami pun tersadar. Cuma orang gila yang jalan-jalan di malam bersalju karena dapat kupon makan, ha-ha-ha. Peta di tangan jadi mubazir,  karena dimana-mana bersalju, jadi bingung arah dan lokasi.  







Biar nggak stres, kami malah foto-foto di pinggiran jalan. Ada tumpukan salju bagus, segera mampir saja deh! Saat orang-orang stay di penginapan, kami jalan-jalan sambil ngomong, “atsui, atsui, atsui(panas-red)”, untuk menghibur diri.






Puas foto-foto dan ngevlog geje, kami segera balik ke hostel. Mau mengabarkan kalau restorannya TU-TUP, sekian dan terima kasih. Balik ke hostel, dua Obasan tengah belajar bahasa Inggris dipandu oleh seorang bule.  Kami malah jadi ngobrol ngalor-ngidul ampai malam. Abis si bule cabut, saya diminta jadi guru les dadakan. Yah, kalau level cetek masih bisa lah. Untung si bule udah cabut, malu juga nih sama bahasa inggris ala kadarnya ini.


Jam menunjukkan pukul 11 malam, living room harus segera dimatikan lampunya. Kami menempati kasur masing-masing dan mengucapkan selamat malam. Kalau sakit begini saya jadi rindu dengan panasnya Indonesia. Pengen pulang sekarang nggak pake besok. Setelah terlelap, saya jadi nggak mau pulang lagi, ha-ha.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar