7 Juli 2014

A Letter from Your Twins



'Our twins's bracelet'

Did you know, Jun? I got an article from Chungdae Post in my university library. They talked about real friendship. The theme was ' who is your best friend? Who did you spend the most time with?'. The answer was handphone or smartphone.


But, my answer was myself. Yeah, I always think about myself! I should make my father in heaven proud of me. I promised him that I was going to take care my mother and my little brother. I never think anything else. Until now, I'm trying to be success.

I was really shocked when I got an  email from you, I never thought about your feeling before. Whenever with you, I just want make you more confidence with yourself. You have everything that I never have. You have good brain and a lot of money, so why you give up with your future? You haven't a reason to do that. You'r my twins. If you are not strong, then, pretend to be strong.  Keep writing my little brother! ^^

140508

Dapet boneka Garfield dari hyung, yeeeeey~~~~
Apakah ini kelihatannya seperti akting? Haha
Enggak. Aku lagi enggak akting. Karena aku benaran seneng dan makasih banget ^^

Aneh ya?
Iya sih, soalnya tadi aku nggak bilang apa-apa. Gomen ne!

Aku aslinya emang orang kaya gitu. Meskipun aku nggak yakin kamu menyadari sifatku yang satu ini.
Aku mungkin nggak pinter nutupin ekspresi “nggak suka” (contohnya insiden si patrick tadi hahaha)
Tapi ekpresi sayang, suka, cinta, dan sejenisnya.. aku cukup pandai menutupi semua itu.

Ini bukan fenomena alami lho. Ini adalah dampak dari didikan keluarga.

Seperti yang kamu tau, keluargaku itu enggak seharmonis kelihatannya.
Tapi meski begitu, bukan berarti kami membenci satu sama lain. Kami hanya nggak pandai mengekspresikan kepedulian dan kasih sayang antar satu sama lain.
Aku sendiri nggak ngerti kenapa bisa begitu. Kamu tau, sampai umur segini aku bahkan enggak pernah bilang “aku sayang ibu” atau “aku sayang bapak” ke orang tuaku secara langsung.
Aku selalu berpikir.. dengan kepercayaan maka semuanya sudah cukup. Mereka percaya bahwa aku sayang mereka seperti halnya selama ini aku percaya bahwa mereka juga sayang sama aku.
Itulah sebabnya, selama kita sahabatan sampai sekarang.. sekali pun aku nggak pernah untuk sekedar bilang makasih ke kamu, atau apalah itu (wujud ekpresi sayang kita ke sahabat).

Apakah itu jahat? Haha
Gomen.

Tapi aku bener-bener nggak tau gimana caranya ngungkapin perasaan itu secara langsung.
Aku.. semenjak kita sahabatan sampai detik ini, aku selalu menganggap bahwa kamu itu keren. Meskipun kita seangkatan, jujur sampe sekarang aku masih sungkan untuk menganggap kamu temen sepantaranku. Haha

Sama halnya dengan aku manggil kamu hyung, bagiku kamu itu emang seperti kakak.
Kakak yang kadang nyebelin, yang tulalit, tapi juga kakak yang selalu bikin aku ngerasa bangga.

Kamu mungkin nggak tau (atau justru sebaliknya), kalo lagi sama kamu.. (terlebih semenjak kita kuliah) aku ngerasa seperti sedang memikul beban yang berat, penuh anxiety, dan insecure banget.

Munafik nggak sih aku? Aku padahal suka ngatain Minseok yang insecure-nya kelewatan.

Tapi semua itu, bukan karena aku nggak suka menghabiskan waktu sama kamu. Itu karena aku merasa menjadi sangat kecil kalo lagi sama kamu. Aku yakin kamu (mungkin) juga ngerasa. Kalo lagi sama kamu, perhatiin deh ekspresiku kadang pasti kelihatan nggak nyaman dan kalo ngomong suka belepotan. Seolah-olah aku seperti nggak bisa jadi diriku yang biasanya.

Aku kenapa ya kok bisa kaya gitu?

Apa karena aku iri? Ya, awalnya aku ngira mungkin itu karena aku iri sama kamu. Di sana kamu bisa begitu konsisten dengan apa yang kamu lakuin. Sedang aku di sini?

Tapi ternyata itu bukan karena perasaan iri. Karena aku bukan tipe orang seperti itu. Aku bukan orang yang gampang iri-an ke orang, termasuk ke kamu.

Itu bukan iri, melainkan sebuah perasaan kasihan. Aku kasihan sama diriku sendiri.

Aku kasihan dengan diriku yang enggak bisa mengimbangi kamu (sebagai temenku). Temen yang nggak bisa bikin kamu bangga. Temen yang mungkin hanya akan bikin kamu malu.

Itulah sebabnya... itulah sebabnya aku merasa terbebani.

Kamu.. selain seperti seorang kakak, bagiku kamu seperti role model.

Kamu mungkin nggak tau seberapa besar aku mengagumimu.
Setelah ketemu kamu, moodku pasti akan langsung berubah jadi baik (seperti sekarang misalnya). Rasa percaya diri dan semangatku pasti langsung bangkit.

Dulu.. kamu pernah tanya ke aku, “cita-citamu ki asline opo? Opo sing asline kowe iso?”, dan saat itu aku hanya bisa diem.

Aku.. bukan karena aku nggak punya cita-cita makanya aku diem. Itu.. karena aku udah nggak ingin mengingatnya lagi.
Percuma, pikirku. Meskipun cita-citaku setinggi langit, aku nggak akan mungkin bisa meraihnya.

Bukan.. tapi karena mereka nggak akan setuju meski aku berusaha untuk meraihnya.

Mereka?
Ya, mereka. Keluargaku.

Orang tuaku.. bahkan sebelum aku memutuskannya, mereka udah merencanakan masa depanku terlebih dulu, hyung.

Kenapa mereka berusaha mati-matian nyari modal dan mengembangkan toko sampai seperti sekarang ini, itu semua karena untuk masa depanku. Mereka pengen aku ngelanjutin usaha itu, dengan begitu aku akan selalu bersama mereka.

Orang tuaku.. enggak ingin menikmati masa tuanya sendirian.

Meski pada dasarnya aku juga nggak pengen membiarkan mereka menua tanpa didampingi anak-anaknya.

Dulu, waktu ada beasiswa ke Jerman dan aku bilang aku mau ikut, mereka nggak ada yang mendukungku sama sekali. Mereka emang nggak melarangku untuk ikut, tapi aku bisa ngeliat dari kata-kata mereka yang menyiratkan bahwa mereka enggak berharap aku berhasil dapet beasiswa itu.

Kenapa? Karena mereka takut.

Mereka mungkin emang nggak percaya kalo aku bakal bisa hidup mandiri. Tapi kelihatannya alasan itu bukanlah alasan satu-satunya. Alasan utamanya adalah.. karena mereka takut, bahwa setelah nantinya aku berhasil dengan adaptasiku di Jerman (dulu sebelum aku kuliah di jogja mereka juga mikir aku bakal sering pulang karena nggak betah di sini, tapi nyatanya sekarang aku malah betah banget dan nggak kepengen pulang), maka kelak aku pasti bakal pengen pergi ke tempat yang lebih jauh lagi dan meninggalkan mereka gitu aja. Terlebih sekarang Mbak Ika udah berkeluarga dan tinggal sama suaminya.

Aku.. waktu kelas satu SMP aku pernah nulis sebuah cerpen (gara-gara tugas bahasa indonesia kalo nggak salah). Cerpen itu dibaca temenku dan dia bilang ceritanya bagus (karena sukses bikin dia nangis). Dia bilang sama aku, “Linda.. kamu punya bakat nulis. Kalo kamu mau ngembangin, aku yakin kamu bisa jadi penulis”.

Berkat kata-kata temenku itu, saat itu juga aku mutusin, bahwa cita-citaku adalah menjadi seorang penulis.

Ini beneran, hyung. Aku pengen jadi penulis bukan karena ikut-ikut kamu seperti yang sempet kamu curigai dulu haha, tapi ini emang murni cita-citaku bahkan sebelum kita ketemu dan aku kenal kamu.

Aku bener-bener pengen bisa sekolah keluar negeri dan menulis pengalamanku itu ke dalam sebuah buku.

Dulu, untuk menyalurkan bakat menulisku, aku sempet nulis beberapa fanfic, tapi akhirnya berhenti di tengah jalan karena hopeless. Hopeless setelah aku tau keinginan orang tuaku itu.

Meski aku percaya di dunia ini enggak ada yang enggak mungkin. Tapi aku bukanlah tipe orang yang akan berani menjalani sesuatu tanpa adanya restu dari orang tuaku. Bagiku, restu mereka adalah segalanya, karena itu berimbas pada wujud baktiku ke mereka. Dan aku juga percaya bahwa tanpa adanya restu orang tua, apapun yang aku jalani enggak akan berjalan baik. Itulah sebabnya aku berpikir untuk melupakan cita-cita itu dan menguburnya dalam-dalam.

Tapi toh pada akhirnya aku tetep nggak bisa membohongi diriku sendiri, bahwa sampai detik ini mimpi itu masih ada.Dan aku baru menyadarinya setelah aku sukses bikin skenario pentas drama kelasku tahun lalu.

Apa yang paling bisa membanggakan bagi seorang penulis?

Sejujurnya aku juga nggak tau apa jawaban pastinya. Tapi bagiku, hal yang paling membanggakan adalah ketika ada seseorang yang membaca tulisanku dan orang itu menyukainya.

Waktu itu (saat drama itu) di antara teman-teman setimku, ada salah seorang rekan yang pas di akhir acara, di tengah rekan-rekan yang mengabaikan kerja kerasku, dia bersuara dengan lantangnya “Linda. Makasih. Makasih atas skenarionya.”

Juga ketika foto bersama dengan para dosen. Salah seorang dosen celingukan mencariku (yang terlihat terisolasi ditengah kerumunan rekan-rekan). Beliau menarik tanganku, dan membawaku pada beberapa turis Jerman yang menjadi penonton. Di depan turis Jerman itu, dengan semangatnya beliau berkata “Ini yang namanya Linda. Anak ini yang me-remake naskah dramanya sehingga menjadi lebih mudah dipahami.” (kata-kata ini dalam bahasa Jerman tentunya haha, Cuma aku lupa dulu gimana kalimatnya, pokoknya intinya kaya gini). Turis Jerman itu pun pada nyalamin aku dan bilang sehr gut.

Aku seneng bukan main, hyung. Ternyata masih ada orang yang menghargai kerja kerasku. Dan itulah yang bikin aku sadar bahwa keinginanku untuk menulis rupanya belum mati.

Sejak dua bulan yang lalu aku memutuskan untuk menulis lagi. Yah meski kemampuanku masih ecek-ecek.. aku menulis cerita remaja (cerita bersambung) dan mem-posting-nya di salah satu website. Dan lebih dari yang kuduga, ternyata banyak yang suka cerita itu. Aku pun jadi galau lagi.

Dan hari ini, setelah ketemu kamu terus kamu bilang soal sekolah ke luar negeri dan lain-lain, aku.. aku jadi termotivasi lagi. Aku ingin melakukannya, aku ingin memperjuangkannya.

Tiap kali abis ketemu kamu, entah kamu percaya atau enggak. Motivasiku untuk menjalani masa depan (sesuai impianku) selalu muncul kembali. Motivasi untuk jadi orang yang setidaknya bisa bikin kamu bangga punya temen kaya aku. Meskipun aku enggak tau bagaimana caranya melewati `tembok besar’ yang sedang mengelilingiku.

Arigatou..
sebuah kata yang sejak dulu selalu aku pendam dihatiku buat kamu.

Arigatou, hyung.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar