7 Oktober 2013

Penjajahan Tuan


Saya punya sebuah cerita. Cerita ini murni indah. Cerita yang telah berlumut jauh di dalam memori. Saya bukan tipe pengingat ulung, hingga suatu saat saya takut bahwa Tuan adalah anonim yang saya lupa. Bahwa Tuan pernah singgah dan mengelus hati saya dengan pelan. Bahwa suatu ketika Tuan mampir, mengetuk logika dengan warna baru. Tuan membuat saya jauh lebih hidup, mengenal  penghargaan dan subjektivitas. Saya lebih tahu daripada Tuan, ini cukup mempersulit. Saya sering menawar dan terus-menerus gagal. Cukup jenuh untuk tahu apa Tuan memang benar-benar ada.

Suatu malam, Tuhan pernah menegur saya dalam sebuah mimpi "Dia bukan jodohmu", kata Tuhan, lalu saya terbangun dengan gemetar dan berdoa kembali "Tuhan, semoga dia menjadi jodohku".

Saya selalu nekat dan bergerak di luar nalar. Saya khawatir jika menyerah sekarang, itu benar-benar menjadi usaha terakhir saya untuk Tuan. "Tuan, mungkin Anda seorang pelupa. Anda melupakan hal-hal penting yang masih belum terjawab, saya".

Apakah saya belum cukup sempurna untuk meyakinkan Tuan bahwa ini benar-benar terjadi? Apakah saya harus menjadi goblin-goblin aneh dan mengerjakan lelucon setiap pagi. Saya sudah menyerah menjadi pelawak sejak kecil, tapi berpapasan dengan Tuan, seketika saya menjadi pelawak jadi-jadian. Melawak dan menghilang lagi, "Menatapmu itu suatu anugerah, meski jauh dan lelah" .

Saya tak pernah mengeluh bahwa segalanya akan menjadi melelahkan, tetapi jauh melelahkan melihat Tuhan berharap dalam diam. Tuan membisu dan membiarkan saya sendirian sekali lagi. Ini bukan final, mungkin, karena saya masih di tempat kemarin, Tuan. Saya masih di tempat yang sama di mana Tuan duduk sejak tiga tahun yang lalu, menunggu.

"Tiga tahun telah menjadi bukti bahwa waktu bukan masalah. Waktu adalah langkah indah untuk menyatakan rasa suka saya kepada Tuan".

"Asal Tuan tahu, di sini masih sepi. Tuan, apakah Anda seorang pemalas?"

Memori-memori ini saya susun kembali, meski tidak lagi runtut! Saya menyesalinya, dari sekian banyak hal kebaikan, entah bagaimana hanya ada ketololan kita. Hanya hal-hal kecil yang masih tersisa, hingga alasan-alasan penting telah lenyap. Saya benar-benar lupa sejak kapan saya kecanduan Tuan.

"Mulut ini mengunci, badan ini telah lumpuh, entah bagaimana caranya, matamu selalu terbaca oleh mataku yang memandangmu dari belakang"-Bangcok

Tidak ada komentar:

Posting Komentar