10 November 2015

Backpack ke Jepang?


Dulu sempat kepikiran, mimpi ini bakal terwujud tidak ya?
Awalnya saya selalu merasa salah mengambil jurusan Sastra Jepang di UGM, seharusnya memilih komunikasi aja. Bahkan saat memilih UKM, saya juga memilih UKM yang berbau dunia jurnalistik. Impian kerjaan juga jurnalis, reporter atau sekalian jadi pembaca berita. Namun, bahasa yang saya 'sia-siakan' selama kuliah ini malah menjadi 'joker' dalam kehidupan karier saya.

Sejak SMA mengambil jurusan bahasa, kuliah diterima di Sastra Jepang, lulus bekerja di perusahaan Jepang. Beruntungnya lagi, saya mendapatkan pekerjaan sesuai dengan passion, menjadi content writer spesialis pariwisata Jepang. Mungkin ini yang namanya 'Hobi yang Digaji' kali ya?

Bukankah Tuhan memang director paling cerdas? Kita tak akan pernah tahu, kalau saya dapat berkarier sesuai bidang yang saya geluti. Suka nulis dan Jepang, hingga mendapatkan kesempatan untuk melakoni keduanya.

Selama bekerja, tak terpikirkan untuk ke Jepang. Hanya berpikir bahwa Jepang itu jauh, hanya bisa dijangkau dengan beasiswa dan anak-anak yang mengantongi sertifikat NI atau N2. Namun, siapa menyangka mimpi ini terwujud dengan cara yang tak terduga-duga, Business Trip!!!

Suatu hari, saat Bos datang ke Yogyakarta, ia menghampiri meja kerjaku. Kami bertukar pendapat tentang pengelolaan Facebook Fanpage dari Jalan-jalan ke Jepang. Dan tak terduga, dia melontarkan sebuah kalimat yang akan saya ingat selamanya.
"Nihon e iku?"
Aku cuman bisa gagap sebentar. Alih-alih menjawabnya, saya malah berdebat soal tata bahasa di dalam kepala.

Maksudnya? Saya mau ke Jepang? Ya iyalah pak. Bentar, tapi ini bentuknya 'iku' ya, berarti bukan tanya saya pernah ke Jepang kan ya? Karena jawabannya pasti belum.

Kalau misalnya dia nawarin ke Jepang, kok gak pakai 'ikitai'? Oh ya, ikitai kan gak boleh dipakai untuk nanyain orang lain. Udah tata bahasa Jepangku rusak!!! Karena saya terdiam, dia nanya lagi.

"Nihon e iku?"

Setelah yakin kalau dia tengah nawarin trip ke Jepang, saya langsung menjawab dengan semangat.

"MOCHIRON DESU YO"

Jawaban yang gak terlalu bener, percampuran antara happy dan kepedean. Inilah awal perjalanan penuh drama saya sebelum akhirnya menginjakkan kaki di Jepang. Dimulai dengan ribut-ribut mengurus e-paspor, bebas visa, pengalaman 'gaptek' di bandara, tersesat di Jepang, gak doyan makan, dan gak mau balik ke Indonesia! hehehe, I Love U, Indonesia, peacee...

Banyak sekali yang ingin saya ceritakan, mungkin bisa menjadi insiprasi, motivasi, ataupun jadi dongeng sebelum tidur. Pastinya, tak ada yang mustahil kalau Tuhan telah menetapkan. Dan setelah mengkalkulasi semuanya, sebenarnya jalan-jalan ke Jepang tak terlalu mahal dengan meningkatnya perekonomian Indonesia.

Nyatanya, udah banyak banget yang ke Jepang pakai uang sendiri (ya kali pakai duit tetangga). Saya saja di Jepang berkali-kali ketemu dengan orang Indonesia. Entah di bandara, di Daiso, di banyak tempat deh. Kok bisa tahu sih? Ya iyalah, mereka pergi gerombolan dan ngobrol pakai Bahasa Indonesia kenceng banget! Jiwaku yang merasa terpanggil, langsung nimbrung.

"Dari Indonesia, ya?"

Yeay, jauh-jauh ke Jepang ngobrolnya tetep pakai Bahasa Indonesia. Gak papalah, namanya juga rejeki bertemu dengan kawan se-negara. Merasa jadi ada temen deket yang bisa jadi sandaran kalau ada apa-apa di Jepang.

Dengan suksesnya perjalanan ke Jepang ini, pengorbanan mengurus e-paspor dan bebas visa ke Jepang pun tak lagi sia-sia. Titik balik kehidupanku memang berawal dari sini. Saat saya harus ke Jakarta selama 10 hari untuk menyelesaikan semuanya.

Drama di Jakartah


Saya mendapatkan jatah 10 hari ke Jakarta dengan biaya kantor, seperti pesawat, tempat tinggal, uang makan, dan taksi. Lumayan juga, bisa mencicipi 'kerasnya' jalanan Jakarta. Momen ini menjadi pengalaman cukup berkesan karena saya harus naik pesawat. Oh my, saya paling parno yang namanya naik pesawat di Indonesia. You know what I mean. 

Saya sedikit gaptek di Bandara Internasional Adisucipto Yogyakarta, aduh ini masuk lewat mana, check-in gimana, bagasi gimana, semua kegundahan jadi satu. Setalah sukses masuk, tinggal nunggu boarding aja. Meski baru pertama kali, ternyata saya gak malu-maluin juga karena yang paling penting adalah PD. 

Untungnya saya naik Batik Air yang cukup lumayanlah untuk kelas ekonomi. Ada snack dan videonya juga biar gak bosen selama satu jam perjalanan. Kesan pertama naik pesawat? Amazing!!! Saya jadi ketagihan naik pesawat lagi. Dibandingin naik bus ber-AC selama 16 jam, saya lebih memilih mengambil risiko naik pesawat aja. Meski jantung dag-dig-dug kayak mau copot. 

Meski tujuan saya ke Jakarta adalah mengurus e-paspor dan bebas visa, saya tak akan mengulas banyak tentang keduanya. Saya akan lebih bercerita tentang pengalam seru yang saya alami selama 10 hari di Jakarta ya. Kalau mau tahu ulasan tentang e-paspor dan bebas visa ke Jepang bisa dibaca pada link di bawah ini. Keduanya saya tulis dari pengalaman pribadi.  

BACA JUGA: 



Pengalama menarik selama di Jakarta akan saya tulis dalam poin di bawah ini ya, semoga terhibur dan makin kaya ilmunya. Apa sih!

1. Drama 'Ketinggalan' Pesawat

Saat saya akan kembali ke Yogyakarta, saya yang masih awam ini naik taksi dari Jakarta Pusat pada pukul 4 sore, padahal penerbangan pada pukul 18.30. Jadi bisa bayangin kan perasaan orang mau ketinggalan pesawat tapi masih terjebak di dalam taksi. Taksinya pun masih berjuang menembus kemacetan di tol. 

Saya udah cemas tak karuan, kalau ketinggalan pesawat gimana nih bro? Saya pun sampai di Bandara Soetta Terminal 2 dan mendengar panggilan terakhir boarding dari pesawat yang akan saya tumpangi. Drama mengejar pesawat pun dimulai.

Untungnya, saya sudah melakukan web check-in sehingga tinggal nyelonong aja bawa masuk koper. Karena saya penumpang terakhir, tak ada 'penyandraan' koper yang tak boleh dibawa ke kabin. Padahal koper lumayan besar, udah aku seret-seret sambil lari diliatin penumpang lainnya. Mungkin mikirnya, saya lagi syuting sinetron kali ya -_-

2. Drama "Deket Kok"


Well, saya dan ayah baru emang gak cocok. Tunggu dulu, dalam artian membedakan mana jauh dan mana deket ya. Lainnya, ayah baik banget, pengertian, dan suka mengalah. Yes, bisa manja-manjaan karena almarhum ayah karakternya mirip denganku. Ceplas-ceplos, santai, selo, dan gak suka basa-basi. Jadi ceritanya, selama di Jakarta saya ditemani ayah selama libur kerja. 

Saya tidak cuti kerja, tetapi kerja di kantor pusat Jakarta. Selama libur saya bertemu dengan ayah dan saudaranya di sana. Drama ini pun dimulai dari prinsip ayah yang suka jalan kaki dan menghemat. Saya mah boros dan prefer naik sepeda daripada jalan kaki.

Saat kami akan mengunjungi suatu lokasi, ayah mengatakan 'deket kok' dan memilih untuk jalan kaki. Saya pun percaya-percaya saja dengan pikiran 'deket kok' paling cuman ratusan meter. Bayangin ya jalan kaki di pinggiran jalan yang macet, banyak polusi dan panas, seperti apa perasaan saya? Dan ternyata, 'deket kok' versi ayah tuh bisa mencapai 3 kilometer ndro!!! 
"Udah sampai?"
"Bentar lagi"
"Udah mau sampai?"
"Itu  udah keliahatan"
"Kok belum sampai Yah?"
"Bentar lagi, udah deket"
-----______------
Berhenti mendadak, nyegat taksi. Ayah noleh, saya menunjukkan muka 'Ayah mau jalan kaki atau naik taksi?". Ngenggg..... malah naik angkot jadinya ^^Gak jalan kaki dan gak pakai mahal. Imbang. 

Menurut ayah deket itu 1-3 kilometer!!!
Gilak kan, saya bawa koper dan pakai wedges sneaker jalan kaki 3 kilometer. Inipun tak hanya sekali, bahkan lebih dari 3 kali. Saya terjebak dalam statement 'deket kok' dari ayah tercinta. Akhinya, saya ngambek dan ayah mau diajak naik bajaj, angkot, ataupun taksi. Separuh perjalanan kami isi dengan acara berantem dan berantem, tapi malah bikin deket, sedeket jalanan yang harus aku taklukan ^^

3. Drama "Food Shock"


Ini lotis emang bahannya dari apa sih, masak sebungkus harganya 15 ribu? Aduh cuman nasi, sayur ama tempe masak 12 ribu? Makan apa ya, kok kayaknya mahal semua?

Intinya saya benar-benar rindu dengan Yogyakarta. Ah, pengen makan nasi rames dengan harga 4 ribu aja. Atau pengen makan lotis seharga 6 ribu dapat banyak banget. Pengen makan pecel!!! 
Setelah pulang dari Jakarta, saya tambah kurus dan lebih nafsu makan. Sekian. 

4. Drama Nomor 001


Satu cerita paling membanggakan adalah naik taksi jam setengah empat pagi menuju Kantor Imigarasi Kelas I Jakarta Pusat dan mendapatkan antrean nomor 001. Gilak ndro, saya sukses antre nomor satu karena berangkat pagi-pagi. Setelah mengantre 15 menit, pengantre lainnya juga mulai berdatangan, padahal gerbang baru dibuka pada pukul 06.15 WIB. Keren gak sih.

Kerennya lagi, setelah sukses mendapatkan antrean nomor 001, saya harus balik ke kantor karena kekuarangan berkas. Setelah balik lagi, saya mendapatkan antrean 064. Okay, saya balik jam 12 siang padahal antre dari jam 4 pagi. Diketawain sama bapak-bapak di warung gado-gado, mbaknya baru selesai ya? Menurut ngana?
Beberapa drama ini baru cuplikan saja, drama sebenenarnya di Jepang akan saya tulis di lain waktu. Semoga makin pengen ke Jepang ya...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar