28 September 2017

Sepasang Kaos Kaki dari Omicho Market untuk Si Unyil

Apakah kamu suka geregetan kalau sering dikasih nickname semena-mena sama orang? Dewor, Bila Nanti, Jandi, sampai Unyil adalah beberapa nickname yang sempat saya sandang. Unyil? Ya, nickname yang paling nggak saya suka dari banyak nama alias yang berderet di dalam sejarah kehidupan saya.


Saya juga bisa merasa lelah dipanggil Unyil melulu dari SMA sampai kerja. Maka dari itu, saya pengin banget memberi penghargaan Nobel pada seorang sahabat yang menyebut saya Dwarf. Minimal, nama saya sudah naik kasta dan lebih ada prestige dari Si Unyil, meski sama-sama dipakai untuk mengonotasikan kurcaci.

Namun, tenang saja, saya sudah lama kok berdamai dengan diri sendiri. Kamu bebas menyebut saya apa saja. Karena, nggak ada ruginya juga kok punya wajah kekanak-kanakan dan badan mungil seperti ini. Jujur, kini saya benar-benar happy punya badan kecil. Bisa pakai baju yang lucu-lucu juga, kan? Ha-ha.

Selama backpacker-an ke Jepang, karena badan dan wajah Unyil inilah, saya sering dibantu penduduk lokal. Harap maklum, nggak ada yang percaya kalau saya sudah berusia 26 tahun! Tahunya, “Ini anak kecil ngapain jalan-jalan sendirian sampe ke Jepang?”. 

Hunting Winter Outfit di Omicho Market Kanazawa



Awal cerita, saya bertemu dengan dua orang Obasan di Omicho Market Kanazawa saat lagi hunting syal, kaos kaki, dan sarung tangan untuk persiapan ke Shirakawago. Obasan 1 adalah sang pemilik toko dan Obasan 2 adalah si pembeli. Mereka lagi asik ngobrol ketika saya masuk ke dalam toko.

Ciri khas saya kalau belanja selalu to the point! Nemuin Obasan 1 dan nanya di mana lokasi syal, sarung tangan, dan kaos kaki. Jika dapat barang, bayar, lalu cabut,deh!

Setelah ngobrol ngalor-ngidul sedikit, Obasan 1 merekomendasikan syal yang cocok buat saya. Ia sampai mendemonstrasikan bagaimana cara pakainya hingga akhirnya kedua Obasan ini jadi penasaran.

Kamu dari Taiwan, ya?

Tersenyum dan saya jawab kalau saya dari Indonesa.

Wah, kamu ke Jepang sendiri? Kenapa kamu bisa bahasa Jepang? Kok, kamu bisa tahu cara menghitung uang Jepang? ”.

Sampai-sampai saya jelasin juga nilai tukar rupiah dan yen. Mereka berdua pun manggut-manggut. Masih dengan nada setengah excited, Obasan 2 pun nyeletuk, 

Hadiah kaos kaki dari Obasan!

Karena kamu sudah berani ke Jepang sendiri, saya akan kasih kamu hadiah! Sekarang, kamu pilih sepasang kaos kaki yang kamu suka di rak itu!”.

Kedua Obasan itu pun asyik memilihkan kaos kaki untuk saya layaknya cucu mereka sendiri. OK. ini pendapat subjektif saya, ya, ha-ha. Ini mah baiknya kebangetan. 

Bukan dilihat dari nominal kaos kaki yang diberikan. Namun, niatan kedua nenek ini untuk membuka diri kepada orang asing, sampai memberi hadiah segala. Ini sangat langka jika terjadi di Jepang. 

Setengah terharu saya pun menerima sepasang kaos kaki baru yang kata mereka sangat imut. Wah, nggak hanya kaki, tetapi hati saya pun makin hangat karena keramahan dan kebaikan dua orang Obasan ini. 



Sebelum berpisah, kami sempat foto bareng! Mereka menyemangati saya untuk terus melanjutkan perjalanan dan sukses menaklukkan hawa dingin Shirakawago. 

Dengan adanya perjalanan seperti ini, saya menjadi tahu betapa Tuhan begitu menyayangi saya. Tuhan mungkin membuat saya kesepian pada suatu malam. Namun, Tuhan akan menggantinya dengan satu kebahagian pada suatu pagi. 

Memakai kaos kaki baru

Yang jelas, Tuhan nggak pernah sekalipun membiarkan saya sendiri. Terpenting, saya dapat kaos kaki baru! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar